SYS_STATUS: OPTIMAL | SECURE_CONN: TRUE
LOC: BALI_HQ | 08:46:45 UTC+8
Dewata Solutions
Status DECLASSIFIED
Date_Log 17 Jan 2026
Author_ID UNKNOWN
Read_Time EST. 5 MINS
REF: laptop-survival-kit-internet-listrik-mati

Laptop Survival Kit: Setup Laptop Saat Internet dan Listrik Mati

"Bayangin skenarionya begini: internet mati, listrik mati, situasi agak kacau, tapi laptop kamu masih nyala karena baterai masih sisa. Pertanyaannya bukan “aplikasi apa yang keren”, tapi: apa yang bikin kamu tetap bisa bertahan dan pulih cepat. Di kondisi kayak gini, setup laptop yang masuk akal biasanya punya 4 tujuan inti: Artikel ini bukan buat bikin […] "

Laptop Survival Kit: Setup Laptop Saat Internet dan Listrik Mati
// IMG_SOURCE: MAIN_DB

Bayangin skenarionya begini: internet mati, listrik mati, situasi agak kacau, tapi laptop kamu masih nyala karena baterai masih sisa. Pertanyaannya bukan “aplikasi apa yang keren”, tapi: apa yang bikin kamu tetap bisa bertahan dan pulih cepat.

Di kondisi kayak gini, setup laptop yang masuk akal biasanya punya 4 tujuan inti:

  1. Data aman dan bisa dipulihkan
  2. Komunikasi tetap jalan saat internet dibatasi
  3. Punya knowledge dan dokumen penting secara offline
  4. Bisa reinstall atau recovery cepat

Artikel ini bukan buat bikin kamu paranoid. Ini buat bikin kamu siap. Beda tipis, tapi efeknya jauh.

Prinsip besar dulu: threat model kamu itu apa?

Sebelum nginstal macam-macam, tanya diri sendiri:

  • Kamu takut laptop rusak (corrupt OS, SSD error), atau takut data bocor?
  • Kamu butuh akses ke dokumen karena pekerjaan/bisnis, atau buat kebutuhan pribadi (identitas, keluarga, finansial)?
  • Kamu sering pindah tempat dan bawa drive, atau mostly di rumah?

Jawaban ini nentuin seberapa “berat” setup kamu. Tapi tenang, versi realistisnya tetap bisa rapi dalam 60–90 menit.

1) Data armor: enkripsi + password manager (wajib)

Kalau kamu cuma sempat melakukan dua hal, lakukan ini.

VeraCrypt: brankas file penting

VeraCrypt itu kayak bikin “brankas” digital. Kamu bisa bikin encrypted container (file besar yang isinya terenkripsi) atau enkripsi drive/partisi.

Yang cocok buat kebanyakan orang:

  • Buat 1 container bernama VAULT (misalnya 10–50 GB) di SSD atau external drive.
  • Simpan hal-hal sensitif:
    • Scan KTP/paspor
    • Dokumen kerja dan legal
    • Kunci recovery akun
    • Backup konfigurasi penting
    • Catatan darurat (misalnya SOP dan kontak)

Kunci pentingnya: gunakan password yang beneran kuat dan jangan simpan password vault di catatan yang tidak terenkripsi.

KeePassXC: password manager offline

KeePassXC cocok buat skenario “internet hilang” karena database-nya offline dan terenkripsi (.kdbx). Ini bukan cuma buat login sosmed, tapi buat:

  • akun email utama
  • akun bank/investasi
  • password Wi-Fi rumah
  • credential server, VPN, dan API key

Praktik cepat:

  • Bikin 1 database .kdbx
  • Pakai master password panjang
  • Opsional: tambah key file dan simpan key file di flashdisk terpisah
  • Pastikan database ikut strategi backup

2) Backup beneran: saat data hilang, “niat baik” tidak membantu

Kunci mental model-nya: backup itu bukan aktivitas, tapi kemampuan restore.

Opsi A: Restic (simpel, terenkripsi, cross-platform)

Restic fokus ke keamanan dan verifikasi. Cocok kalau kamu pengin backup yang cepat dipakai tanpa banyak drama.

Praktik cepat:

  • Target: external SSD/HDD
  • Jadwalkan harian (Task Scheduler di Windows atau cron di Linux)
  • Simpan konfigurasi dan kunci repo di VAULT

Opsi B: BorgBackup (hemat space, dedup + kompres + enkripsi)

Kalau kamu punya data besar dan pengin hemat ruang, Borg kuat karena dedup dan kompresinya.

Rule praktis tanpa drama:

  • Minimal 2 media backup fisik
    • Drive A di rumah
    • Drive B di tas atau di tempat lain
  • Tes restore minimal 1 file per bulan

Backup yang tidak pernah dites itu bukan backup. Itu cuma harapan.

3) Sinkronisasi tanpa cloud: Syncthing

Syncthing bisa sync folder antar device, termasuk lewat LAN lokal. Jadi ketika internet mati tapi kamu masih punya jaringan lokal (router hidup, tethering lokal, atau jaringan kantor), file tetap bisa jalan.

Use-case yang umum:

  • “Docs Penting”
  • “Projects”
  • salinan database KeePassXC (atau minimal copy manual)

Catatan: Syncthing bukan pengganti backup. Dia lebih mirip “cermin folder” antar perangkat.

4) Komunikasi saat internet diblokir

Signal

Signal sudah jadi standar emas untuk chat yang end-to-end encrypted. Kalau kamu sudah pakai, itu langkah yang benar.

Bitchat/BitChat: Bluetooth mesh, tanpa internet

Belakangan konsep chat via Bluetooth mesh naik lagi karena ada kasus pembatasan internet di beberapa negara.

Realitanya:

  • jarak Bluetooth terbatas
  • reliabilitas tergantung kondisi dan kepadatan pengguna
  • manfaatnya terasa kalau banyak orang di sekitar juga pakai

Tapi buat skenario darurat tertentu, ini salah satu opsi yang relevan.

5) Transfer file tanpa internet: LocalSend

LocalSend itu “AirDrop versi lintas platform”. Kamu bisa kirim file lewat jaringan lokal, tanpa internet, dan open-source.

Use-case darurat:

  • kirim dokumen ke laptop lain
  • pindahin installer ke HP atau sebaliknya
  • berbagi file saat jaringan publik kacau

6) Knowledge offline: biar tidak blank saat internet hilang

Ini bagian yang banyak orang lupa. Padahal saat internet mati, kemampuan kamu jadi “manual mode”.

Kiwix: offline Wikipedia dan koleksi edukasi

Kiwix bisa baca paket konten offline (format ZIM), termasuk Wikipedia.

Yang worth disiapkan:

  • Wikipedia Indonesia (atau English kalau kamu nyaman)
  • topik kesehatan dasar (first aid yang umum)
  • panduan praktis yang legal dan umum

Tips: pilih paket yang realistis dengan storage kamu. Jangan kebanyakan sampai lupa di-backup.

Calibre: perpustakaan PDF dan ebook yang rapi

Kalau kamu punya banyak PDF, manual, buku, atau dokumen belajar, Calibre bikin semuanya rapi dan searchable.

7) Catatan offline: SOP, rencana, checklist, dan recovery credential

Pilih salah satu:

  • Joplin: offline-first, bisa end-to-end encryption
  • Obsidian: file markdown lokal, gampang dipindah dan dibuka di mana pun

Yang sebaiknya kamu simpan (penting):

  • langkah recovery akun email utama
  • daftar kontak darurat
  • SOP bisnis (misalnya: siapa hubungi siapa, alur kerja minimal)
  • langkah restore backup (biar tidak panik)
  • daftar aset digital + serial number perangkat

8) Tool kecil tapi kepakai: arsip dan integritas

7-Zip

Buat kompres file, split file besar, atau bikin arsip backup jadi bagian kecil.

GnuPG / Gpg4win (opsional)

Kalau kamu sering kirim dokumen dan butuh penerima bisa verifikasi keaslian, digital signature itu berguna.

9) Recovery cepat: USB “boot & install” adalah penyelamat

Kalau sistem rusak saat situasi buruk, kamu butuh jalan balik.

Ventoy: 1 USB untuk banyak ISO

Ventoy bikin flashdisk boot yang bisa berisi banyak ISO sekaligus. Jadi kamu cukup copy file ISO ke USB.

Isi yang biasanya masuk akal:

  • Windows installer
  • 1 distro Linux favorit untuk recovery
  • tools rescue (opsional)

Tails dan Qubes OS (untuk threat model yang lebih serius)

  • Tails fokus privasi dan meminimalkan jejak saat boot dari USB
  • Qubes OS fokus isolasi, cocok kalau kamu benar-benar butuh kompartementalisasi keamanan

Untuk kebanyakan orang, Ventoy + installer OS + backup yang rapi sudah jauh lebih realistis.

Setup cepat 60–90 menit (versi “tidak banyak teori”)

Kalau kamu cuma punya waktu sebentar, ikuti urutan ini:

  1. Install KeePassXC → bikin database + master password kuat
  2. Install VeraCrypt → bikin container VAULT
  3. Install Restic (atau Borg) → backup folder penting ke external drive
  4. Install Kiwix → download minimal Wikipedia
  5. Install LocalSend + Syncthing (kalau punya device kedua)
  6. Siapkan Ventoy USB berisi installer OS

Kalau ini beres, laptop kamu bukan cuma “punya aplikasi”. Kamu punya rencana hidup.

Hal kecil yang sering dilupakan (padahal krusial)

  • Simpan installer offline: taruh di VAULT atau drive backup, jangan mengandalkan “nanti download lagi”.
  • Buat checklist print: satu halaman kecil bisa menyelamatkan otak yang lagi panik.
  • Pisahkan risiko: backup drive jangan selalu menempel di laptop. Kalau tas hilang, hilang semua.
  • Latihan sekali: coba restore 1 file, coba buka VAULT, coba boot dari Ventoy. Sekali saja sudah bikin kamu tenang.

Penutup

Kamu tidak perlu jadi “prepper digital” yang ekstrem. Kamu cuma perlu setup yang masuk akal.

Karena di situasi darurat, yang menang bukan yang paling banyak aplikasi, tapi yang paling cepat pulih.

Referensi